"TETAP MENJADI MILIKMU"

 “Love is a cycle. When you love, you get hurt. When you get hurt, you hate. When you hate, you try to forget. When you try to forget, you start missing, and when you start missing, you’ll eventually fall in love again.”


Hai, perkenalkan nama ku Felice.
Aku adalah mahasiswi semester 2 di salah satu Universitas Swasta di kota Semarang.
Aku adalah anak tunggal di keluargaku.
Di Semarang, aku hanya tinggal dengan Ibuku, karena Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil.
Aku memiliki kekasih bernama Roy. Perbedaan umur kami terpaut cukup jauh. Roy berusia 28 tahun, sedangkan aku berusia 18 tahun. Kami sudah berhubungan kurang lebih dua tahun dan kami saling mencintai satu sama lain. 

Inilah kisahku..

01 November 2015

Aku merasa beberapa hari terakhir ini, dia seperti mencoba menghindari aku. 
Aku selalu menanyakan apakah selama ini dia ada masalah atau tidak. 
Entah masalah dalam kerja, keluarga, atau masalah yang lain. 
Dan dia selalu menjawab tidak ada masalah. Apa ini hanya perasaanku saja? 
Bayangkan saja, tiap aku chat dia, baru dia balas delapan jam kemudian, bahkan seringkali bisa lebih dari itu. Tak biasanya dia bersikap seperti itu. Dan hal itu sudah terjadi berulang kali. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga dia bisa berubah seperti ini? Biasanya dia sering menghubungi aku duluan, walaupun hanya sekedar mengingatkanku untuk tak lupa makan.
Hari ini aku akan menghubungi dia via Line, karena memang biasanya kami menggunakan aplikasi line untuk berkomunikasi.

09.00 chat Felice via Line : Hallo sayang jangan lupa makan yaa, kamu lagi apa sekarang?
Aku menunggunya cukup lama. Dan dibalasnya jam 6 sore.
18.00 chat Roy via Line : Sbb ya sayang, aku tadi sibuk banget. Banyak yang harus dikerjain, ini aja baru pegang hp. Aku boleh ke rumah ga hari ini?
18.01 chat Felice via Line : Oh ya gakpapa kok

Ini lah Roy setiap harinya. Dia selalu beralasan sibuk dan tidak bisa pegang hp. Dan waktu aku marah pun, dia pasti balik marah. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari dia. Padahal biasanya dia tak seperti ini, biasanya mungkin dia terlambat balas chat, tapi hanya terlambat setengah jam tidak sampai ber jam – jam seperti ini. Apa aku harus diam saja melihat Roy seperti ini? Kalaupun bertindak, apa yang harus aku lakukan?

Malam hari Roy memintaku untuk bersiap – siap, karena dia akan mengajakku pergi, mungkin karena ini hari jadi kami yang ke 19 bulan. Ya, aku sangat senang. Aku sangat senang dia bisa meluangkan waktu untukku.

20.00 chat Roy via Line : Sayang, kamu sudah siap? Aku mau on the way nih
20.01 chat Felice via Line : Sudah sayang. Yaudah kamu hati – hati ya, kabarin kalo sudah sampai
20.01 chat Roy via Line : Oke sayang
Sambil aku menunggu, aku iseng buka – buka buku katalog ku dulu sewaktu SMA.
Rindu juga dengan masa – masa SMA dulu.
Tak lama kemudian, handphone ku berdering, membuyarkan lamunanku. Roy memberi tahu bahwa ia sudah tiba di depan rumahku. Aku bergegas keluar untuk menemui Roy.

“Hai sayangku” kata Roy padaku.
“Hai juga sayang, kita mau langsung pergi atau duduk – duduk dulu?” sahutku.
“Duduk dulu aja yuk sayang. Sedikit pegel – pegel nih badanku, kerjaan lagi padet banget."
“Oh.. sini aku pijitin kamu”
“Wah kamu pengertian banget hehehe”
“Hahaha yaudah mana yang sakit?”
“Ini nih tanganku kemeng banget"
“Yaudah aku pijitin dulu ya, kamu mau aku ambilin makan ga?”
“Hmm gausah sayang nanti kita makan bareng di luar aja yaa”
“Oke deh siap”
“Oh ya sayang..” tanya Roy padaku.
“Iya sayang kenapa?”
“Happy monthversarry yang ke 19 bulan ya, semoga kita bisa lebih baik ke depannya dan bisa menua bersama, dan yang paling penting, jangan pernah lupakan aku apapun yang terjadi”
“Wah hehehe iya sayang happy monthversarry too, terimakasih sudah mau sempetin waktu kamu buat aku, amin. aku juga pengen sama – sama kamu terus, aku yakin kamu orang yang terbaik untuk aku. Oh ya ini ada hadiah kecil dari aku” kataku seraya memberikan gantungan kunci couple untuk Roy.
“Wah sayang, uangmu ditabung aja. Ga perlu repot – repot sayang”
“Gapapa sayang, aku seneng kalo kamu seneng” kataku sambil melempar senyum.
Ya aku memang sangat mencintai Roy, aku yakin dia yang terbaik untukku. Walau tak jarang dia membuat aku sedih, tapi dia juga yang bisa membuatku bahagia.
“Aku boleh ngga minta 1 permintaan ke kamu?” tanyaku kepada Roy.
“Boleh sayang, kamu mau minta apa?”
“Aku minta kamu kembali seperti dulu, bisa ngabarin aku, ga kayak gini. Aku tadi chat kamu jam 9 pagi, masa baru kamu balas jam 6 malem. Sesibuk itu kamu sampe kamu ga bisa kasi kabar ke aku? Aku cuma minta kamu kabarin aku yaa jangan kayak gini lagi, bisa kan?”
“Oh iya aku minta maaf ya sayang, tadi aku bener – bener sibuk jadi ga sempet pegang hp. Iya aku janji, besok aku kabarin kamu yaa. Yaudah yuk pergi udah jam 9 juga kan ini..”
“Iya aku pegang janji kamu ya.. Yaudah kita pergi sekarang. Tapi kita mau kemana?”
“Nongkrong aja yuk..”
“Oh yaudah boleh, aku ikut kamu aja deh” sahutku mengakhiri obrolan.
Setelah berbincang- bincang, kemudian aku dan Roy berpamitan pada Ibuku untuk pergi nongkrong. Untung hari ini malam minggu, jadi kami bisa keluar sampai malam.
Di perjalanan kami bercakap – cakap, saling bertukar cerita apa yang kami lakukan di hari ini. Tak terasa 35 menit perjalanan, kami sudah sampai.
“Sayang mau makan apa? Ini ada sate, nasi goreng, bubur ayam, macem – macem nih” tanya Roy padaku.
“Aku nasi goreng aja sayang, yang pedes banget yaa..” jawabku.
Halah jangan pedes – pedes yaa, nanti sakit kamu kambuh lagi”
“Hahaha iya deh sayang. Kamu pesan apa?” jawabku dengan senyum.
“Sama deh, nasi goreng juga” jawab Roy mengakhiri obrolan.
Yaa aku memang sangat suka makanan – makanan pedas. Sampai – sampai aku melupakan kesehatanku. Yaa aku punya penyakit maag yang cukup kronis. Dan kalau sudah kambuh, sakitnya bisa setengah mati. Tapi itu tak membuatku kapok untuk tetap makan makanan pedas, hehehe.
Ketika makanan kami datang, kami makan bersama. Aku sangat senang bisa berdua dengan Roy walau hanya beberapa jam saja.
“Sayang, setelah ini kita mau kemana?” tanyaku pada Roy.
“Keliling kota yuk sayang, atau mau mampir dimana gitu buat foto – foto?” sahut Roy.
“Wah boleh boleh, aku udah bawa fish eye juga nih hahaha”
“Wih pasti selalu bawa fish eye, hahaha yaudah ntar kalo ga kemaleman aku cariin tempat yah”
“Oke sayang siap” jawabku mengakhiri obrolan.
Setelah makan, kami berdua melanjutkan untuk keliling kota Semarang.
Senang, nyaman, bahagia yah itu yang aku rasakan hari ini bersama Roy.
Setelah puas keliling kota, kami memutuskan untuk pulang. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Yap, sudah hampir tengah malam. Beberapa menit kemudian, rumahku pun sudah di depan mata.
“Sayang, aku langsung pulang aja iya. Maaf tadi kita ga bisa foto – foto, udah malem banget. Besok kita ketemu lagi. Oke?”
“Iyaa gapapa sayang, kamu pulangnya hati - hati. Jangan ngebut yaa. Kabarin aku kalo kamu udah sampe”
“Iya sayang daaa..”
“Iya sayang” sahut Roy.
Roy berpamitan padaku untuk pulang. Lagi pula sudah tengah malam. Pasti dia juga sangat lelah. Aku pun juga sudah mulai ngantuk, aku memutuskan untuk tidur.

2 November 2015

Hari minggu tiba. Roy menghubungiku jika siang nanti dia tidak bisa ke rumahku karena ada urusan mendadak. Dari sini aku merasa janggal. Mengapa mendadak sekali, sepertinya kemarin dia bilang bahwa akan ke rumahku lagi hari minggu.
Karena memang, biasanya weekend kita selalu bertemu. Pikirku, seperti ada sesuatu yang disembunyikan dia dari aku.
Hari ini aku pun hanya di rumah dan mengisi waktu dengan beres – beres kamar. Ya tidak ada kabar dari Roy lagi.

17.00 chat Roy via Line : Sayang
Dari siang dia baru memberi kabar sore – sore. Apakah dia sesibuk itu? Apa memang aku hanya selingan nya? Apa aku sudah tak penting lagi? Berbagai pikiran negatif tentang dia selalu menyelimuti pikiranku.
17.02 chat Felice via Line : Kamu dari mana aja sih? Kok baru kasih kabar sekarang?
17.03 chat Roy via Line : Maaf sayang, tadi aku sibuk banget. Ayah dari teman kerja aku meninggal, jadi aku harus melayat. Ini baru mau on the way Semarang.
17.03 chat Felice via Line : Udah deh terserah kamu mau alesan apa lagi. Aku udah capek. Udah sering banget kamu kayak gini. Apa ya ga bisa kamu 5 menit aja pegang hp untuk kasi aku kabar? Aku memang ga penting lagi ya buat kamu? Kalo aku ganggu kamu, kamu bilang. Jangan kayak gini.
17.05 chat Roy via Line : Jangan marah sayang, aku kan uda minta maaf. Emang bener tadi aku layat di Jepara.
17.05 chat Felice via Line : Yaudah sekarang terserah kamu aja ya, aku ga atur – atur lagi.
17.08 chat Roy via Line : *read*

Rasanya emosi ku sudah meledak. Bagaimana tidak, kesalahan yang Roy perbuat selalu sama. Ia seperti menghindari aku. Aku tahu persis bagaimana dia. Tapi sekarang dia sudah berbeda. Rasanya dia seperti orang lain buatku. Aku nggak boleh diam seperti ini terus, aku harus bertindak, aku harus cari tau apa sebab perubahan sikap nya.

Sejak hari itu aku diamkan Roy beberapa hari. Chat dari dia pun tak pernah kubaca dan kubalas. Aku ingin tau bagaimana respon dia akan itu. Apa dia akan menemuiku di rumah, atau hanya diam saja.

6 November 2015

15.00 chat Roy via Line : Sayang, kamu udah nggak mau ketemu aku lagi ya?

Pertanyaan apa itu? Mengapa dia tidak ada inisiatif datang ke rumah atau telfon atau bagaimana? Apa memang dia sudah ada yang lain? Ah, tak mungkin dia tega melakukan itu. Mungkin dia hanya jenuh saja. Chat dari Roy tetap tak aku hiraukan.

7 November 2015

Aku berangkat ke kampus seperti biasa. Di kampus, aku memiliki teman yang cukup dekat. Terkadang aku juga sedikit curhat mengenai masalahku padanya.
Dia juga memberi saran – saran yang positif. Namanya Sandi. Dia satu fakultas dan satu jurusan denganku.
Aku sudah tak tahan dengan sikap Roy, tapi rasa sayang itu masih ada, masih sama, dan belum berkurang. Aku memutuskan untuk sedikit bercerita ke Sandi.

“San, aku mau minta waktu kamu sebentar nih. Aku mau cerita”
“Iya bisa, mau cerita apa Fel kok kayaknya serius banget gitu”
“Soal Roy san”
“Roy pacar kamu itu kan? Kenapa sama dia?”
“Iya aku ngerasa akhir – akhir ini banyak perubahan dari dia. Sikap dan perilaku dia ke aku sekarang beda banget. Aku ngerasa aneh aja, seperti ada yang disembunyikan dia dari aku”
“Hmm, mungkin karena kalian udah terbiasa ketemu tiap hari mungkin?”
“Justru karena aku dan dia terbiasa sering bertemu, aku peka banget kalo dia berubah San. Dan sekarang, aku udah jarang banget ketemu dia. Kalau aku jelasin ke kamu itu complicated, tapi aku emang ngerasa seolah – olah dia menghindari aku dan menurutku dia emang sengaja ngurangin waktu dia buat aku. Aku tau pekerjaan dia, dia ga mungkin sesibuk itu. Masa sampe ga sempet pegang hp. Aku chat dia jam 9 pagi, dia balesnya jam 6 sore. Dan hal itu sering banget dia lakuin. Apa menurut kamu itu masih wajar?”
“Kamu ga coba cari tau soal dia gimana gitu? Mungkin ada chat dia sama cewek lain atau gimana? Kalo pas kamu pinjem hp dia, dia kasi lihat ke kamu ga?”
“Kalo soal hp, dia kasi liat kok San. Ya isi hpnya cuma aku doang. Aku juga agak curiga dari situ, tapi itu ga aku masalahin. Yang paling menonjol sekarang itu sikap dia dan waktu dia mulai berkurang sama aku”
“Kalo dari cerita kamu sih, aku bisa menyimpulkan 80% dia ada yang lain”
“Ah ga mungkin San kalo itu, aku percaya dia gaakan setega itu sama aku. Aku ga percaya kalo soal itu San. Mungkin ada masalah di keluarga dia atau mungkin di pekerjaan dia”
“Fel, aku itu cowok. Aku tau sikap – sikap cowok itu gimana. Aku pahamin semua yang kamu ceritain tentang Roy ke aku, dan itu semua menjurus ke yang aku bilang tadi. Kamu coba buktiin sendiri deh apa yang aku bilang bener atau engga. Seiring berjalannya waktu, pasti ketahuan kok. Se pintar – pintar nya orang menutupi keadaan sebenarnya, pada akhirnya pasti akan ketahuan. Selama kamu bisa bertahan, ya kamu pertahanin. Kalo enggak bisa bertahan dengan keadaan kayak gini, kamu lepasin aja. Kamu masih muda Fel, perjalanan kamu masih panjang. Dari pada kamu mikirin ini, lebih baik kamu fokus ke pendidikan kamu”
“Engga San, aku gak mau ngelepasin dia, aku harus tau apa yang dia sembunyiin. Baru aku bisa memutuskan mau bertahan sama dia, atau ngelepasin dia. Itu pun ga segampang itu San. Aku tulus bener – bener sayang sama dia. Aku udah sangat percaya sama dia, dia ga mungkin punya yang lain San”
“Semua itu ada di tangan kamu kok Fel. Ya semoga dugaan aku ke Roy itu salah. Aku juga gak ada niat buat menjerumuskan kamu kok Fel, apa lagi sampai menyuruh kamu putus sama Roy. Tapi kalo kamu tanya pendapatku, ya itu jawabanku tadi. Kamu bisa simpulin sendiri, apa yang harus kamu lakuin sekarang ke Roy. Kamu ambil sisi positif dari saran – saran aku tadi aja”
“Iya San, makasih banyak yaa udah dengerin aku cerita. Ya semoga dugaan kamu ke Roy itu salah. Yaudah balik yuk, udah sore juga. Btw, motor kamu dimana?”
“Oh yaudah Fel kalo gitu. Iya Fel sama – sama. Kita teman, kalo kamu ada masalah ya kamu cerita aja, kalo aku bisa bantu pasti aku bantu. Motor aku di deket ruang lab kok, kamu pulang duluan aja, aku masih ada jam tambahan dari Pak Mulya”
“Oh gitu, yaudah San aku balik duluan yaa. Makasih San skali lagi”
“Iya Fel sama – sama, ati – ati Fel”
“Siap San” sahutku menutup obrolan dengan Sandi.

Jujur, aku cukup kaget dengan jawaban Sandi tadi.
Tapi apa mungkin Roy ada yang lain? Dia tak mungkin setega itu padaku.
Aku tau siapa dia dan bagimana dia. Aku yakin dia orang baik.
Aku berfikir hari ini akan membalas chat dari Roy.
Sudah lima hari ga aku respon sedikitpun.

09.00 chat Felice via Line : Oh jadi kayak gini aja respon kamu kalo aku gabales chat kamu?

Aku menunggu balasan Roy. Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam tak ada balasan. Ternyata dia masih sama. Setelah ber jam – jam kemudian, ada pesan masuk.
Dan setelah aku buka, itu dari Roy.

16.00 chat Roy via Line : Kamu itu darimana aja? Aku chat kamu ga pernah kamu balas. Aku akhir – akhir ini ada tugas di luar kota.
16.01 chat Felice via Line : Halah itu alesan kamu aja.
16.05 chat Roy via Line : Terserah kamu

Ya, jawaban yang sangat cuek dan tak peduli sebagai seorang pasangan. Aku seperti sudah tak kenal lagi siapa Roy. Bahkan mungkin aku sudah tak ada artinya lagi.

10 November 2015

Berhari – hari aku pendam rasa sakit, gundah, galau, dan marah sendirian. Rasanya aku sudah tidak tahan dengan dia. Aku memutuskan untuk rutin ibadah ke gereja. Berdoa dan menenangkan hati. Aku yakin, Tuhan pasti beri jalan terbaik untuk hubunganku. Aku fokuskan diri dan hatiku pada Tuhan.
Sejak saat itu, aku rutin ke gereja setiap sabtu sore.
Hari – hari aku jalani hari dengan hati yang kacau, sedih, gundah, marah bercampur aduk. Tapi setiap aku merasakan itu semua, aku berdoa. Aku pasrahkan semuanya pada Tuhan.
Beberapa hari kemudian, dengan kepala yang dingin, aku mencoba untuk menghubungi Roy, aku menanyakan kapan kita bisa bertemu karena memang ada sesuatu yang harus aku dan Roy bicarakan. Dia menjawab belum tahu. Jawaban yang abu – abu.
Aku tetap sabar dan mencoba untuk tidak emosi.
Selang beberapa hari, dia menghubungi aku kalau dia bisa ketemu hari ini pukul delapan malam. Tapi dia minta untuk tidak bertemu di rumah. Ia bilang bahwa dia akan menungguku jam delapan malam di tempat pertama kali kita bertemu. Aku setuju. Sebelum bertemu dengan Roy nanti malam, aku sudah membuat sesuatu untuk dia. Sesuatu yang menyatakan aku ingin mengakhiri hubungan dengan dia.

15 November 2015

Sudah pukul delapan malam. Roy menghubungiku bahwa ia sudah menunggu di tempat kita janjian. Aku bergegas kesana. Setelah aku sampai, ya memang benar Roy sudah ada disitu. Ada rasa senang, dan juga ada rasa sedih dan kecewa berkecamuk jadi satu. Aku jadi ragu apakah aku tetap memberikan sesuatu itu pada Roy atau tidak. Aku harus meyakinkan hatiku, bahwa keputusanku sudah bulat. Meskipun aku tidak tahu apa yang ia sembunyikan dariku, tapi ya memang ini keputusanku.
Di perjalanan aku menanyakan kemana tujuan kita pergi. Dan dia menuju ke tempat makan. Setelah makan, aku bilang padanya untuk mencari tempat yang agak tenang yang bisa dibuat untuk ngobrol berdua. Ia menyetujuinya. Setelah sampai, aku mulai mengungkapkan unek – unek, dan apa yang aku rasakan.

“Akhir – akhir ini aku ngerasa kamu udah mulai berubah. Udah jarang kasih aku kabar, udah jarang ada waktu buat aku, bahkan kemarin respon kamu kayak orang yang udah ga peduli lagi. Kamu ini sebenernya kenapa? Apa memang udah ga sayang lagi sama aku atau gimana?” tanyaku pada Roy.
“Setiap orang kan pasti bisa berubah. Lagi pula kamu itu gatau apa yang aku alamin sekarang. Aku tertekan sama keadaan”
“Iya kalo berubah lebih baik gapapa, tapi perubahan kamu tuh negatif. Kalo kamu gak bilang sama aku, gak cerita juga sama aku, gimana aku bisa tahu. Aku bukan paranormal yang bisa selalu tahu apa yang kamu alamin”
“Ya ga perlu aku jelasin pokoknya”
“Lha sebenernya aku ini siapa? Masih pacar kamu atau bukan kok sampe segitunya aku ga boleh tahu?”
“Iya pacar aku. Tapi ga perlu tahu lah, yang aku rasain sekarang aku cuma tertekan aja sama keadaan”
“Ya maksudnya tertekan sama keadaan yang bagaimana? Apa aku selalu menekan kamu atau gimana?”
Roy hanya diam dan memasang wajah muram.
“Yaudah kamu sekarang maunya gimana?” tanyaku.
“Aku ga pengen apa – apa. Aku cuma pengen kamu happy dan ga pengen kamu tersakiti karena aku”
“Maksud kamu itu apa, aku masih ga ngerti”
“Ya maksud aku itu, aku cuma ingin kamu bahagia. Aku ga ingin kamu sakit gara – gara aku”
“Oh aku sekarang paham kok apa yang kamu maksud. Yaudah ini buat kamu” kataku seraya memberikan sepucuk surat.
“Apa ini?”
“Udah kamu baca aja di rumah, dan aku yakin kamu pasti seneng kok setelah baca itu, karena memang itu yang kamu mau” sahutku mengakhiri obrolan dengan Roy.

Sebenarnya sampai sekarang, aku masih belum bisa untuk melepaskan Roy. Tapi aku yakin, jika dia memang untukku, pasti akan kembali, kapanpun itu.
Setelah itu, Roy mengantarku pulang. Dan ia juga berpamitan denganku bahwa setelah mengantarku, ia juga langsung pulang.

-Malam hari-

Aku mencoba untuk menghubungi Roy via chat.
22.30 chat Felice via Line : Maafin aku yaa selama kamu denganku, kamu ga pernah bahagia. Aku selalu sayang sama kamu
22.40 chat Roy via Line : Iyaa, aku udah baca suratnya
22.40 chat Felice via Line : Iyaa
22.45 chat Roy via Line : Harusnya aku yang minta maaf, aku yang banyak salah. Jangan pernah lupain aku yaa, jangan ganti – ganti nomor hp juga.

Aku tak pernah percaya dengan adanya hari ini. Walau ini seperti mimpi, tapi inilah kenyataannya. Aku sudah resmi menyandang status "mantan" dari Roy.

16 November 2015


Pagi hari yang cerah, seharusnya diawali dengan senyuman, malah kuawali dengan kegalauan. Harusnya aku bahagia, aku sudah tidak sakit hati lagi karena perbuatan Roy, tapi mengapa rasanya hatiku sangat hancur. Aku mencoba menghubungi Roy untuk mengucapkan selamat pagi, tapi tak ada respon. Bukan berjam – jam lagi, tapi seharian. Ya sudah tak apa – apa, mungkin dia sudah lega dan senang bisa putus denganku.

18 November 2015

Chat ku dengan Roy terakhir di hari itu tidak pernah di respon lagi. Aku mulai kepikiran dengan hal itu. Aku mulai iseng membuka kontak – kontak di hpku, awalnya aku berniat untuk menghapus kontak – kontak yang tak penting. Tapi kebetulan aku melihat salah satu kontak dengan nama “Mas Teo” yang mana aku ingat betul itu adalah nomer handphone kakak Roy.
“Loh kok masih ada ya nomernya kakaknya Roy?” pikirku.
Aku ingin mencoba menghubungi nomer itu. Tapi aku masih ragu. Dari cerita – cerita Roy yang dulu, katanya dia sering menceritakan soal aku di keluarganya. Yaa, meskipun aku belum pernah langsung diperkenalkan ke keluarganya, tapi aku yakin jika namaku sudah tak asing lagi di keluarganya. Aku memutuskan untuk menghubungi kakak Roy yang bernama Teo via Sms.
“Selamat pagi mas teo. Aku Felice. Roy nya sekarang lagi di Surabaya nggak ya? Kok aku hubungi tapi ngga ada respon dari dia. Makasih mas”
Tidak lama kemudian, ada balasan dari Mas Teo ini.
“Maaf ini Felice siapa ya? Sepertinya Roy nggak pernah punya temen namanya Felice”
DEG! Disitu aku kaget. Aku masih ingat betul, Roy pernah bilang bahwa ia sudah menceritakan tentang aku di keluarganya. Dan yang pasti kalau sudah diceritakan, pasti keluarganya tahu namaku. Aku ingin bilang pacar, tapi baru kemarin aku putus dengan Roy. Lebih baik aku bilang temannya saja.
“Aku temennya kok mas. Memangnya Roy ga pernah cerita soal aku yaa?”
Nggak kok, memangnya cerita soal apa?”
“Coba nanti mas teo bilang ke Roy, pasti Roy tau kok”
“Yaudah nanti aku sampein yaa”
Dari sini aku semakin bingung. Sudah jelas Roy selama ini menyembunyikan sesuatu dari aku. Tak lama kemudian, hpku berdering, ternyata ada telepon masuk. Dan ternyata yang menelfonku adalah kakaknya Roy. Apa dia mau marah – marah atau bagaimana? Kuputuskan untuk mengangkatnya.
“Halo mas teo”
“Oh iya halo, ini temennya Roy ya?”
“Iya aku temen nya kok. Kenapa mas kok telfon?”
“Oh gakpapa cuma aku bingung aja soalnya Roy ga pernah cerita kalo punya temen namanya Felice”
“Yaudah nanti mas teo tanyain ke Roy aja, dia pasti tau kok”
“Oh baik kalo begitu”
Setelah menutup telfon nya, aku memutuskan untuk mandi. Dan ada telfon masuk lagi, tapi beda nomor. Siapa lagi ya ini? Aku memutuskan untuk mengangkatnya juga. Tapi kali ini suaranya cewek. Cewek ini berkata, bahwa dia istrinya mas teo, mbak Sasa namanya. Tapi sepertinya aku ragu. Dari kata – katanya dia seperti sedang mencari tahu. Kemudian dia menghubungiku via sms dan meminta pin BBM. Aku memberikannya. Setelah itu aku mandi sebentar dan muncul nama Roy di line sedang marah – marah dan memaki – maki aku.

09.30 chat Roy via Line : Maksud kamu apa menghubungi kakakku? Kamu jangan lancang ya!
09.30 chat Felice via Line : Kenapa kamu marah – marah sama aku? Bukannya kamu pernah bilang, kamu pernah ceritakan soal aku di keluarga kamu. Harusnya keluargamu sudah tahu siapa aku
09.32 chat Roy via Line : Kamu itu gak tau apa – apa. Aku dimarahin kakakku
09.33 chat Felice via Line : Kenapa kakak kamu harus marah?
09.34 chat Roy via Line : Terus kamu ngapain juga hubungin Rani?


Disini aku juga dikagetkan waktu Roy menyebut nama Rani. Dari cerita Roy yang dulu, Rani adalah mantannya semasa kuliah dan sudah putus lama. Kenapa dia singgung dia lagi? Dan kenapa dia bertanya aku menghubungi Rani? Padahal aku tidak pernah tahu nomor hp dan segala sesuatu tentang Rani itu. Dari sini aku sudah mulai menaruh rasa curiga.


09.36 chat Felice via Line : Maksud kamu menghubungi Rani itu apa? Aku gak pernah punya kontak dia apalagi nomor hp nya. Kamu masih ada hubungan sama dia?
09.40 chat Roy via Line : Lantas kenapa dia punya foto – foto kita? Kamu jadi orang lancang banget!
09.40 chat Felice via Line : Tadi mbak sasa menelfonku, lalu dia minta pin ku dan tanya – tanya soal aku sama kamu. Trus dia minta foto – foto kita buat ditunjukkin ke papa kamu katanya
09.45 chat Roy via Line : Oh aku tau. Kamu delcont pin Sasa sekarang. Itu bukan sasa. Kamu itu dibohongi!
09.46 chat Felice via Line : Bentar – bentar, maksudnya dibohongin itu apa? kamu tolong jelasin dulu ke aku!
09.47 chat Roy via Line : Udah lah kamu itu lancang, gak tau apa – apa berani menghubungi kakakku. Kalo kayak gini yang ada malah menjauhkan kita, ngerti kamu!
09.48 chat Felice via Line : Aku cuma pengen tahu kabar kamu, itu aja. Maksudnya menjauhkan apa? Hubungannya sama Rani dan kakak kamu apa?
09.49 chat Roy via Line : Kamu itu mikir gak, kamu itu udah ngehancurin masa depan aku, ngehancurin semuanya!
09.50 chat Felice via Line : Bentar – bentar, aku mau dengerin penjelasan kamu dulu, coba tolong jelasin ke aku apa maksudnya ini semua??
09.52 chat Roy via Line : Udah gak ada yang perlu dijelasin, udah selesai semuanya, gak usah hubungi aku lagi!

Ya Tuhan kenapa masalah ini malah jadi semakin rumit. Siapa sebenarnya mbak Sasa? Trus kenapa mas Teo harus marah sama Roy? Ada apa ini sebenarnya? Berbagai pertanyaan menyelimuti pikiranku, pertanyaan yang belum terjawab sama sekali. Bagiku ini belum selesai. Aku harus mencari tau apa maksut ini semua.

-Keesokan harinya-
Hari ini aku memutuskan untuk bolos kuliah. Karena situasi yang semakin rumit, dan mataku pun yang membengkak. Aku menyambi hari itu dengan tetap BBM an dengan mbak Sasa. Walaupun aku mencurigai wanita ini adalah mantannya Roy. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Tiba – tiba, mbak Sasa ini menelpon ku dan meminta bertemu di Apartemen Roy. Dia bilang bahwa dia sudah di rumah Roy dengan papa nya Roy. 
"Lho padahal terakhir chat, dia bilang bahwa jam setengah 3 dia baru saja pulang kerja. Aneh banget.", pikirku.
Awalnya aku menolak untuk bertemu, tapi aku juga ingin tau apa maksud dia mengajakku bertemu di Apartemen Roy. Aku mencoba bilang ke mamaku, dan mamaku memaksaku untuk menerima ajakan mbak Sasa ini. Karena mamaku mencurigai bahwa yang mengaku mbak Sasa ini adalah kekasih Roy. Disini aku masih belum percaya, tapi aku memutuskan untuk tetap bertemu dengan mbak Sasa itu hari ini.

-Di perjalanan-
Aku sangat deg – degan. Apakah benar yang dimaksud Sandi dan mamaku kalau Roy memang ada yang lain? Ah pasti tidak benar. Tidak mungkin dia tega melakukan itu padaku.
Dan tak terasa, sekarang aku sudah sampai di depan apartemen Roy. Karena memang jarak rumah ku ke apartemen Roy tidak begitu jauh. Dan benar saja ada motor yang ber plat AD parkir di depan apartemen Roy. Jantung ku mulai berdebar kencang. Disana aku melihat sosok wanita yang wajahnya tidak asing bagiku, dan aku mencurigai bahwa itu Rani. Dan disana mamaku langsung bertanya,

“Kamu siapa nya Roy ya?”
“Saya pacarnya. Saya udah pacaran sama dia 8 tahun”
“Eh kamu jangan asal ngomong ya, bukan nya kamu sama Roy udah putus lama?” sambungku.
 “Kita gak pernah putus tuh, kita udah pacaran 8 tahun dari awal kuliah dulu. Kamu siapanya emangnya?”

Mendengar itu, aku hanya diam dan tak mau bicara lagi. Ternyata benar dugaanku. Bahwa Rani lah yang BBM an dengan ku, bukan mbak Sasa. Kecewa, kaget, patah, marah, sedih dan mau mati rasanya. Apa – apaan ini? Aku tidak percaya dia tega melakukan ini di belakangku. Jadi, selama ini aku jadi yang kedua. Rasanya aku ingin mati saja di hari itu. Hari itu benar – benar membuat hati ku hancur. lebur Aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan setelah itu. Apa salahku pada Roy? Selama kita berpacaran, aku selalu berusaha membuat dia bahagia. Tapi kenapa dia lakukan ini padaku? Kenapa ini yang aku dapatkan? Kenapa dia sangat jahat? Kenapa ketika dia berhasil membuat aku benar – benar mencintainya, dia perlakukan aku seperti ini? Dan lebih parahnya lagi, dia bilang bahwa dia mencintai aku karena kasihan. Benar – benar fatal.

Di perjalanan pulang, rasanya aku masih tidak terima dengan apa yang Roy lakukan ke aku. Jujur, sampai sekarang perasaanku masih sama padanya. Entah apa aku ini bodoh atau bagaimana.
Sesampainya di rumah aku hanya bisa menangis dan meratapi kesedihan sendiri. Dan aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mamaku, mamaku menelfon Roy untuk datang ke rumah menemuiku, dan baik – baik menjelaskan apa yang terjadi tadi. Mungkin karena melihat keadaanku yang sudah kacau dan tak karuan saat itu.
Dan kata mamaku Roy pun mengiyakan. Aku bergegas mandi agar sedikit lebih segar dan melupakan sejenak masalah tadi. Tapi kejadian tadi terus terngiang di pikiranku. Tak lama ada line masuk dari Roy.

19.30 chat Roy via Line : Aku otw ke rumah yaa

Tak kubalas, hanya kubaca saja. Masih seperti mimpi hari ini, hari yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebenarnya aku tak ingin kehilangan dia. Tapi memang ini lah kenyataan yang harus aku jalani. Sepertinya baru kemarin aku jalan berdua dengannya, kami masih menjadi sepasang kekasih yang sangat berbahagia, masih saling bertukar cerita, masih saling bertatap muka, dan masih ada kata “cinta” diantara kita.
Sekarang, aku harus sudah mulai terbiasa tanpa itu semua. Sebuah rutinitas baru yang harus kujalani, entah aku mampu atau tidak..

-Roy sampai di rumah-

19.48 chat Roy via Line : Aku udah sampai

Roy sudah ada di depan. Wajahku masih tak karuan. Aku mulai membukakan pintu, dan Roy sudah berdiri di depan. Aku bingung apa yang harus aku bicarakan dengan dia, sedangkan dia juga tak coba menjelaskan apa yang terjadi. Tak lama kita saling diam – diam an, Roy pun mulai membuka pembicaraan.

“Maafin aku yaa” kata Roy memulai pembicaraan.
“Aku tahu kesalahan yang kamu buat udah fatal. Tapi jujur, rasa itu masih ada bahkan masih sama” jawabku sambil terisak.
“Iya aku tau. Aku sekarang udah sangat nggak pantas buat kamu. Yang aku bisa lakukan ke kamu sekarang hanya minta maaf”

Dan tak lama mamaku datang dan mempertanyakan maksud dia melakukan semua ini. Roy tidak bisa menjawab, dia hanya berkata sepatah dua patah kata saja. Setelah itu mamaku menanyakan apa yang akan Roy lakukan setelah ini, dia menjawab dia tidak akan memilih siapa – siapa. Dia tidak memilih aku ataupun Rani. Sekarang dia hanya ingin sendiri. Aku sangat hancur mendengar pernyataan dari Roy. Tapi mungkin Tuhan ingin aku mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi dari Roy. Lalu mamaku membiarkan kami ngobrol berdua lagi. Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Aku benar – benar tidak bisa bicara. Hatiku benar – benar sudah hancur. Sudah tak ada semangat hidup, sudah mati rasa. Kedengarannya mungkin sedikit berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan saat ini. Setelah waktu menunjukkan pukul 22.30, Roy berpamitan padaku untuk pulang.

“Kamu jaga diri kamu baik – baik yaa, jangan merusak diri kamu sendiri. Pasti ada yang lebih baik dari aku, maafin aku yaa” kata Roy.
“Kenapa yaa kamu tega kayak gini sama aku, aku benar – benar tulus sayang sama kamu, aku masih ingin kita seperti dulu” balasku sambil menangis.
“Maafin aku yaa.. kamu harus tetap semangat, jangan lupa makan, trus gausah makan yang pedes – pedes kan kamu punya maag. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu yaa” jawab Roy padaku.

Aku hanya bisa diam dan menangis. Kenapa ya ini harus terjadi padaku? Padahal aku sudah melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk dia.
Sudahlah tak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Tak ada gunanya aku menangisi keadaan. Aku seharusnya berterimakasih pada Tuhan karena dia tidak membiarkan aku jatuh di lubang yang lebih dalam.

20 November 2015
Aku masih mengisi hari – hari ku dengan kegalauan. Saat ini aku tak mengisi perutku dengan makanan sedikitpun. Aku seperti sudah tak peduli lagi dengan diriku sendiri.
Aku masih berharap, apa yang terjadi padaku kemarin hanya mimpi, bukan kenyataan.
Setiap hari yang aku lakukan hanya menangis. Aku sempat berfikir untuk melukai diriku sendiri dengan pisau yang kugenggam sekarang. Sampai suatu sore aku ketiduran, aku bertemu seperti sosok pria berjubah putih. Saat itu aku melihat posisi ku sedang duduk di bebatuan dan menangis. Kemudian sosok pria itu menghampiriku dan berkata,

“Apa yang sedang kamu lakukan disini nak?”
“Aku sangat hancur. Mengapa aku harus merasakan ini semua? Aku sudah tak ingin hidup lagi rasanya..”
“Banyak orang yang mencintaimu nak. Begitupun AKU. Mengapa kau menjadi kecil hanya karena 1 orang menyakitimu? Aku izinkan ini semua terjadi supaya kau terlatih, makin hari makin sempurna menyerupai AKU. Teruslah melangkah, belum waktumu untuk berada disini”

Aku melihat diriku tak berkata apa – apa, aku langsung memeluk erat sosok pria itu. Sejak saat itu aku mulai untuk bangkit dan memaafkan orang - orang yang menyakitiku, termasuk Roy.

24 November 2015
Aku sudah mulai ingin membuang segala kenangan tentang Roy. Mulai dari foto, baju – baju couple, jaket, sweater, dan barang – barang yang mengingatkanku tentang Roy. Aku menyiapkan kardus untuk memasukkan barang – barang itu. Entah dibuang atau masih di rumahku, yang penting sudah aku masukkan ke dalam kardus itu. Paling tidak, barang – barang tersebut sudah tidak ada di depan mataku.
Setelah aku memasukkan barang – barang yang berhubungan dengan Roy itu di dalam kardus, kondisiku mulai membaik. Aku sudah mulai bisa tersenyum, bisa tertawa, dan hampir stabil. Aku sangat bersyukur. Aku tetap mendekatkan diriku pada Tuhan.

01 Februari 2016
Roy mulai menghubungi aku lagi. Selalu menanyakan kabar dan bilang ingin selalu tahu bagaimana keadaan dan kabarku disini. Tapi aku tidak menghiraukannya. Karena sebenarnya aku masih sakit dan sangat kecewa dengan kejadian waktu itu, dan tidak ingin mengenal dia lagi. Sudah beberapa kali aku tolak undangan nya di BBM, dan aku blokir semua sosmed nya. Ternyata itu tidak membuat dia menyerah. Dia selalu menginvite ulang pin ku. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menerima undangan BBM darinya. Dari situ kita mulai mengobrol lagi, tapi aku takut aku tidak bisa mengontrol perasaanku.
Hari demi hari aku jalani, aku masih berkomunikasi dengan Roy via BBM. Bahkan sesekali kita pernah bertemu. Sampai sekarang aku merasa aku masih belum bisa untuk move on darinya.
Suatu hari aku sempat berfikir, aku tidak mungkin seperti ini terus. Aku harus melangkah maju. Aku harus berani membuat suatu keputusan. Aku harus berani melupakan dia.
Dan mulai hari itu, aku memutuskan untuk memutuskan kontak dengan Roy. Aku akan menghapus kontak BBM nya dan mengganti nomerku. Dan aku juga tidak ingin untuk menemuinya lagi.

12 Januari 2021
Aku sudah lulus kuliah sekarang dan aku sudah memiliki pekerjaan tetap di bagian perpajakan, di salah satu kantor pajak di Kota Semarang. Sebelumnya aku melanjutkan kuliah S1 di Kota Surabaya. Tapi setelah aku lulus, aku memutuskan untuk kembali lagi ke kota Semarang karena aku tidak tega membiarkan mamaku hidup sendiri di Kota Semarang. Aku terus menabung, hingga akhirnya aku bisa membeli rumah untuk aku dan mamaku tinggali.
Setiap hari kecuali weekend, aku melakukan rutinitasku yaitu bekerja. Ketika aku membuat laporan, aku tak sengaja melihat kalender. Hari ini tanggal 12 Januari, hari jadianku dengan Roy. Hmm lebih tepatnya “Failed Anniversarry”.
Andai saja aku masih bersamanya, tapi.. ah sudahlah.
Tiba – tiba lamunanku dibuyarkan oleh datangnya Jena. Ya Jena adalah teman kantorku yang cukup dekat.

“Oi Fel ngelamun aja! Makan siang bareng yuk”
 “Eh kamu Jen ngagetin aja. Lho emang sekarang jam berapa?”
“Jam 12 noh. Nglamun aja sih”
“Hahaha ya maap, ga liat jam Jen haha, yaudah yuk”

Ya ini lah rutinitas ku sehari – hari. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku alami dulu sampai sekarang. Hal – hal yang membuat aku jatuh dan terpuruk, tapi tanpa aku sadari hal itu juga yang membuat aku bangkit dan menjadi pribadi yang lebih kuat seperti sekarang ini.

15 Januari 2021
Hari ini hari sabtu. Setiap sabtu sore aku selalu meluangkan waktu untuk beribadah. Setiap beribadah, aku selalu sendiri. Supaya aku bisa lebih memfokuskan pikiran dan hatiku untuk Nya. Biasanya aku pasti beribadah di gereja Santa Maria, tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi kali ini ada yang berbeda, tak tahu kenapa tiba – tiba terbesit dalam pikiranku, aku ingin ke gereja Santo Yosep. Gereja itu sedikit jauh dari rumahku. Aku bersiap lebih awal, karena perjalanan dari rumah ke gereja itu 30 menit.

-Sesampainya di gereja-
“Wih rame banget nih hari ini” kataku dalam hati.

Aku bergegas masuk ke gereja dan mengikuti ibadah disana yang kurang lebih satu jam. Setelah selesai ibadah, aku berdoa penutup. Saat aku bergegas untuk keluar dari gereja, aku menabrak seorang pria.

“Eh mbak maaf – maaf, ga sengaja” kata pria itu.
“Gakpapa kok mas” kataku sambil menunduk.

Dan ketika aku mengangkat kepala, aku kaget bukan main. Itu roy! Iya aku yakin itu Roy. Ya ampun, aku tidak percaya mengapa kami bisa dipertemukan disini. Pelan - pelan, luka masa lalu itu mulai terbuka kembali.

“Lho, ngapain kamu disini?” tanyaku.
“Aku ikut ibadah disini. Aku ga nyangka bisa dipertemukan sama kamu disini. Kamu kemana aja?”
“Lah tumben kamu ibadah disini, biasanya juga kamu di Solo kan? Itu ga salah pertanyaan kamu?”
“Iya aku kebetulan aja disini. Apa aku salah kalau aku tanya itu sama kamu? Aku hubungi nomor kamu tapi ga aktif, aku berusaha hubungi sosmed kamu tapi gak pernah bisa”
“Ngapain kamu cari aku? kamu bisa cari yang lebih baik lagi kan dari aku. Seperti yang kamu bilang, kalo aku juga pasti dapet yang lebih baik dari kamu. Dulu setiap aku bilang, aku pengen kembali lagi sama kamu, tapi kamu selalu tolak aku. Trus buat apa sekarang kamu cari aku lagi? Urusan kita udah selesai kan? Sekarang kita cari kebahagiaan masing – masing aja”
“Aku cuma pengen tau kabar dan keadaan kamu. Aku selalu kepikiran soal kamu. Aku nggak pernah nolak kamu, aku cuma nggak mau kamu kecewa lagi, aku takut aku bikin kamu sakit. Tapi sekarang aku sadar……”

Belum sempat Roy melanjutkan pembicaraan nya, aku memotong pembicaraannya dan bergegas untuk pergi.

“Sadar apa? Sadar kalo emang kamu ga pantes, ga cocok, ga pas buat aku gitu? Iya aku tau kok. Aku sadar siapa aku. Dari dulu kamu selalu bilang itu. Udah ya ini terakhir kali kita ketemu, aku nggakmau kita ketemu lagi. Makasih.” kataku sambil meninggalkan Roy.

Aku sudah muak dengan kata – kata itu. "Tak mau mengecewakanku, tak mau menyakitiku, tak mau membuat aku sedih" dan lain sebagainya. 
Di rumah aku masih terngiang dengan pertemuan itu. Apakah dalam lima tahun ini Roy belum menjalin hubungan dengan yang lain? Apakah saat ini dia juga masih single? Yang jelas Roy itu sudah masa lalu ku, tak mungkin aku kembali dengan dia. Aku yakin pasti dia juga sudah punya kekasih atau bahkan mungkin dia sudah menikah.

17 Januari 2021
Its monday! Yaa saatnya kembali bekerja. Tapi hari ini sepertinya aku kurang fokus. Apa karena hari sabtu kemarin ya?

“Hayo nglamun lagi! Kenapa sih Fel ngelamun terus dari kemaren? Ada masalah apa?”
Yaa lagi – lagi Jena datang mengagetkanku.
“Ah kamu ini Jen ngagetin mulu. Ah aku ga ngelamun kok, cuma agak ngantuk aja. Aku bikin kopi dulu aja kalik ya”
“Fel ngantuk sama ngelamun itu beda jauh. Kenapa sih, crita ah”
“Hmm.. Kemaren sabtu pas aku ke gereja aku ketemu mantan aku Jen”
“Ketemu mantan kamu? Mantan kamu yang mana Fel?”
“Roy. Kamu inget kan? Yang pernah aku ceritain ke kamu itu”
“Lho kok aneh banget sih. Bukan nya kamu sama dia udah gak pernah ketemu lima tahun ini ya?”
“Makanya itu Jen, aku kepikiran dia terus ini”
“Fel, udah lah dia kan masa lalu kamu. Ga usah kamu pikirin, malah entar kamunya ga fokus kerja. Anggep aja kalian disana ketemu cuma kebetulan. Lagian ngapain mikirin dia, toh dia dulu pernah nyakitin kamu kan”
“Iya sih Jen, tapi..”
“Udah Fel lupain aja yah, masih banyak kok pria di luar sana yang lebih baik dari Roy”
“Iya Jen..”

-Malam harinya-
Di rumah, aku iseng bongkar – bongkar gudang untuk mencari kardus yang berisi kenangan – kenangan dulu sewaktu aku masih bersama Roy. Tak lama kemudian, aku menemukan kardus itu.

“Nah ketemu!” gumamku.

Aku mulai membuka kardus itu. Isinya masih utuh dan sama. Disana banyak foto – foto, baju, barang – barang yang mengingatkanku tentang Roy. Seketika kenangan itu terbuka lagi. Kenangan pahit dan manis bercampur jadi satu.

-Keesokan harinya-

Pulang dari kantor, aku berencana untuk pergi ke toko buku. Aku ingin mencari buku tentang perpajakan.

“Eh Fel!” tegur Jena.
“Eh iya Jen kenapa?”
“Hari ini kan aku sama temen – temen kantor rencana mau makan – makan nih, kamu ikut yuk”
“Oh acara apa Jen kok makan – makan?”
“Yaa gaada acara apa – apa sih Fel cuma pengen ngumpul – ngumpul aja. Yok ikut. Ntar aku jemput di rumahmu deh”
“Aduh sorry banget Jen, mungkin lain waktu yah. Aku ntar mau ke toko buku nih, mau cari buku tentang pajak gitu”
“Yahh emang ga bisa ditunda lain hari apa Fel?”
“Duh gimana yaa Jen, hmm minggu depan deh gimana?”
“Emang kamu sama siapa Fel ke toko buku nya?”
“Sendirian sih Jen, aku lagi pengen baca – baca gitu. Maaf yaa Jen, aku ga bisa ikut”
 “Yahhh yaudah deh Fel gakpapa mungkin lain waktu iya. Yaudah kamu hati - hati Fel perginya”
“Iyaa Fel kamu juga yaa”

Aku mulai memasuki mobil ku dan menuju ke toko buku dekat kantorku. Dan sampailah aku di toko buku. Aku mulai mencari – cari buku tentang perpajakan. Aku sedikit teringat tentang hal – hal dulu. Waktu aku kuliah, jika ada tugas tentang perpajakan, pasti aku selalu minta bantuan Roy. Entah kenapa tiba - tiba aku rindu dengan masa – masa itu.
Masa - masa yang hanya tinggal kenangan dan tak mungkin terulang kembali.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun sudah mendapatkan bukunya. Saat nya aku pulang.

-Malam harinya-
Aku sudah mandi dan bergegas untuk tidur. Karena rasanya hari ini sangat melelahkan. Ketika aku baru saja ingin memejamkan mata ku, hp ku berdering.

“Lho siapa ini nge chat malem – malem? Apa ada pemberitahuan dari kantor ya?” pikirku.|

Ketika aku melihat di layar handphone ku, aku seakan tak percaya. Ternyata notifikasi itu dari Roy. Dia mengirim pesan lewat facebook ku.

“Bukannya dia nggak punya fb ya? Kok tiba – tiba sekarang punya?” gumamku dalam hati.

Roy : Hallo..gimana kabar kamu sekarang?
Felice : Ada apa sih kamu masih ganggu aku aja, belum cukup ya udah nyakitin aku?
Roy : Iya aku tahu aku salah. Maafin aku.. Aku cuma pengen tau kabarmu
Felice : Seperti yang kamu liat, aku baik kan. Udah ya gausah ganggu aku lagi!
Roy : Udah lima tahun aku ga pernah ketemu lagi sama kamu
Felice : Trus?
Roy : Selama aku masih ada, aku pengen minta 1 kali lagi kesempatan buat bisa ketemu kamu lagi, kapanpun itu
Felice : Kamu itu bicara apa? Lagian kalo kita ketemu gaada yang mau kita bicarakan lagi Roy, urusan kita sudah selesai. Apa masih kurang jelas aku bicara?
Roy : Ada. Banyak yang mau aku bicarain ke kamu
Felice : Kamu urus aja hidup kamu sendiri dan jangan ganggu aku lagi!
Roy : Kalo boleh tau sekarang kamu kerja dimana?
Felice : Kamu ga perlu tahu
Roy : Yaudah gakpapa kalo ga boleh tahu
Felice : Udah ya aku capek, aku mau tidur
Roy : Yaudah gakpapa, maaf ya kalau aku ganggu kamu

Aku hanya membaca chat terakhir dari Roy, karena aku masih trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.

-Keesokan harinya-
Masih dengan rutinitas yang sama dan pekerjaan yang sama. Roy masih tak henti – hentinya untuk menghubungi aku. Lama kelamaan aku pun luluh dan mau menemuinya lagi. Sampai akhirnya suatu malam kita membuat janji untuk bertemu, sepulangku dari kantor.

To be continue......

Comments

Popular Posts